Kenalan, yuk ....!

Muhammad Sodri

Assalamualaikum. Setiap orang mengalami fase bisnis yang berbeda-beda. Di sini, saya ingin membagi kisah saya dan juga pengalaman-pengalaman saya dalam membangun bisnis lewat KelasReseller.id.

Harapannya, tentu saja banyak orang yang terbantu dan kemudian bisa mengubah hidupnya ke arah yang LEBIH BAIK.

Karena sebagaimana kata Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesamanya.

Inilah Kisahku ....

Setelah lulus SMK N 2 Surakarta, saya ikut bekerja menjadi tenaga packaging freelance di sebuah perusahaan percetakan majalah Islam di Solo. Kemudian, dari perusahaan memberikan pekerjaan tambahan untuk menjadi tukang loper majalah yang dititipkan di toko/kios kios majalah dan koran se-Soloraya. 

Setengah tahun menjalani pekerjaan seabgai loper majalah, diberikan pekerjaan tambahan menjadi office boy di kantor dan diperbolehkan menginap di kantor selama kurang lebih 1,5 tahun.

Saat dipercaya menjadi office boy inilah, saat malam hari, saya memulai belajar skill mengoperasikan beragam software di komputer memanfaatkan fasilitas kantor yang tersedia serta mulai mengarungi dunia internet untuk belajar hal baru.

Salah satu pengalaman yang berkesan saat menjadi office boy ini adalah kemampuan komputer saya bertambah tanpa harus mengikuti kursus komputer. Terutama skill menulis/mengetik di komputer. Tanpa terasa saya sudah mampu mengetik dengan 10 jari aktif dan tanpa melihat keyboard.

Setelah 1,5 tahun menjadi office boy saya dipercaya menjadi kepala gudang untuk mengurus semua pekerjaan berkaitan dengan pemesanan majalah, packing, dan juga pengiriman.

Tidak sampai 1 tahun menjadi kepala gudang, perusahaan kembali memberikan kepercayaan kepada saya menjadi Staf Marketing bagian CS & Pelayanan. Yang bertugas melayani semua pelanggan perusahaan. Hal ini membuat saya harus belajar menjadi customer service yang baik. Melayani sepenuh hati agar pelanggan betah dan loyal dengan perusahaan. Sedangkan untuk kepala gudang diamanahkan kepada karyawan perusahaan yang baru.

 

 

Saat perusahaan makin mengembangkan usaha di bidang herbal, perusahaan kemudian mempercayakan kepada saya untuk memegang bidang marketing urusan herbal. Saya banyak belajar tentang dunia marketing, cara meraih penjualan terbaik, meyakinkan pasar, membuat promosi secara autodidak dengan membaca buku-buku marketing, menyelami di dunia internet, bertemu dengan orang-orang marketing semua tentang marketing. Hal yang paling membuat saya berkesan saat menjalani debut marketing di bidang herbal adalah, mampu menemani pertumbuhan omset dari Rp500 ribu/bulan hingga Rp 30-an juta/bulan selama waktu kurang dari 1 tahun.

Sukses di divisi herbal, saya kembali dipercaya untuk menjadi staf marketing untuk divisi herbal, jasa periklanan majalah, dan  divisi penerbitan buku.

Saat menjadi marketing buku, terbitan pertama perusahaan percetakan saya, 1.000 eksemplar habis dalam 4 bulan. Hingga cetak ulang menjadi 5.000 eksemplar. Hingga saya mendapatkan bonus/komisi penjualan dari buku ini nominalnya sangat besar buat saya. Sangat cukup untuk modal pernikahan. membeli cicin lamaran, mas kawin emas dan uang tunai, dan seserahan pengantin sangat lengkap.

Tiga tahun menjalani perkerjaan ini, perusahaan kembali memberikan kepercayaan untuk posisi Manager Marketing meski tidak sampai 1 tahun amanah ini saya pegang.

Saat di puncak karier saya inilah, saya memutuskan resign dari perusahaan yang telah membantu saya tumbuh menjadi seorang marketer. Saya memilih untuk menjelajahi tantangan dunia marketing yang lebih luas lagi.

Setelah resign, saya bersama istri memulai merintis usaha jualan gamis di tahun 2013. Semua hanya bermula dari ketidak-sengajaan saat saya dimintai tolong oleh salah seorang pelanggan perusahaan saya  dulu untuk membelanjakan beberapa pesanan gamis di produsen-produsen gamis di Soloraya. Dan saya mendapatkan fee dari jasa ini.

 

 

Sekitar 3 bulan berjalan melayani orderan ini, membuat saya mulai penasaran dan mempelajari dunia gamis. Dan saat itu saya bersama istri memberanikan diri membuat desain gamis sendiri, beberapa biji, dan dijahitkan ke tetangga. Gamis yang sudah jadi saya titip jual ke pelanggan saya yang kebetulan memiliki toko perlengkapan muslim besar di daerahnya. Saya kirimkan sekalian dengan gami gamis pesanan beliau.

Alhamdulillah, kabar baik gamis buatan saya laku. Dari situ saya naikkan sedikit demi sedikit jumlah gamis yang saya produksi.

Saya beranikan diri untuk promosi di majalah tempat saya bekerja dulu, alhamdulillah 1 tahun saya mampu menaikkan penjualan dan membawa merek gamis yang cukup dikenal di komunitas pelanggan majalah.

Namun usaha ini hanya mampu bertahan selama 4 tahun. Memasuki tahun ke 5 justru saya mengalami kendala di marketing. Tersibukkan dengan hal-hal teknis produksi, membuat saya tertinggal/tidak mampu bersaing dalam hal penjualan.

Saat itu sedang bertumbuh media sosial berikut layanan iklan via digital. Padahal saya sudah terlanjur membuka jalur distributor maupun agen gamis merek saya. Sementara di bagian produksi tidak mampu menambah kapasitas produksinya. Hal ini membuat saya stuck tidak dapat bergerak dan cenderung merugi di operasional.

Awal bulan saya hanya belanja bahan, produksi di penjahit. Ketika akhir bulan selesai, produk di kirimkan ke agen dan distributor. Praktis dalam 1 bulan saya memiliki banyak waktu menganggur.

Hal ini membuat saya harus bergerak mencari alternatif tambahan usaha yang perputaran uangnya relatif lebih cepat.

Kebetulan tetangga rumah ada yang jualan daster grosiran. Saya mencoba ikut bergabung menjadi reseller di situ TANPA MODAL SAMA SEKALI dan memulai menawarkan jualan daster via media sosial. Alhamdulillah respons pasar bagus dan setiap hari saya mendapatkan order dari pelanggan-pelanggan baru saya.

 

 

Empat bulan berjalan saya merasakan jualan di daster lebih cepat perputaran uang nya dibanding gamis. Saat itu saya beranikan diri untuk rekrut keponakan 1 orang membantu operasional daster. Di bagian ambil barang, packing dan kirim. Sementara saya masih fokus memperbesar pelanggan.

Tujuh bulan berjalan, pertumbuhan daster makin besar, mulai dapat kepercayaan pasokan barang, saya putuskan untuk usaha gamis saya tutup dan fokus di 1 lini usaha daster.

Memasuki tahun ke 2 saya mulai menambah hingga 4 karyawan untuk membantu operasional usaha ini lebih cepat dan pelayanan optimal. Saya masih fokus membangun pasar agar penjualan senantiasa meningkat.

Kini di tahun ke-4 dengan izin Allah usaha daster ini sudah di level korporasi. Dibantu dengan salah seorang teman di managemen, kami mengembangkan usaha ini hingga level pabrikasi.

Total karyawan 18 orang di bagian CS, KEUANGAN, GUDANG, serta PACKAGING.

Menjalani usaha daster ini, membuat saya menjadi mengerti bagaimana suka duka , tantangan, antisipasi, dalam menjalankan bisnis dari modal nol rupiah menjadi 1 MILIAR PER BULAN bertumbuh secara organik, bertahap TANPA HUTANG BANK!

Karena itu, saya ingin berbagi  pengalaman, SHARING, DISKUSI dengan sahabatku semua, bahwa untuk menjalankan usaha dari O bahkan tanpa MODAL itu menjadi sebuah BISNIS BESAR yang riil bisa kita wujudkan. Dan semaunya telah saya tulis, video, dan bukukan tahapan-tahapan untuk mencapainya.

Semoga semakin banyak generasi penerus bangsa ini yang mampu bertumbuh menjadi pebisnis-pebisnis yang tangguh. 

Terima kasih, dan salam sukses!